Malioboro.. Oh, Malioboro..

Malioboro, sebuah jalan yang terkenal di kota Yogya. Hampir pasti semua orang mengenal dan mengetahui Malioboro. Sebuah kawasan yang dapat memenuhi hasrat kebutuhan belanja anda yang memiliki hobi berbelanja. Di sepanjang jalan searah Malioboro, ramai pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Dari kaos, makanan, hingga pernak pernik khas yogyakarta yang semuanya dapat anda temukan di Malioboro. Puas berbelanja, dan ingin melepas penat sejenak?? Anda dapat memanjakan lidah anda di pedagang kaki lima makanan di sepanjang Malioboro. Dengan sajian berbagai menu yang dapat anda pilih dan sembari anda menikmati hiruk pikuk keramaian khas Malioboro. Ketika memasuki waktu sholat, anda dapat sholat di Masjid Malioboro (semoga tidak salah nama), sebelah utara Malioboro Mall. Suasananya tenang, dan menenangkan. Letak Masjid Malioboro sendiri terletak 1 komplek dengan gedung DPRD (Kalo gak salah lagi, serampangan kemarin lihatnya..🙂 ).

malioboro

Namun, layaknya sebuah hal. Malioboro mempunyai sisi “menggelitik” yang saya alami sendiri.
Di hari Minggu, 151109, saat sedang menghadiri sebuah kegiatan himakom tercinta. Di malam sebelumnya (malam minggu), ketika hendak memindah parkir motor dengan teman saya dari tepi jalan malioboro ke basement Mall. Temanku sudah mengeluh malas bayar parkir. Kulihat papan tarif parkir resmi dari pemkot Yogya yanng angkuh berdiri, tertulis bahwa tarif parkir sepeda motor Rp 500,00. Kucoba saja bercakap dengan petugas parkir.

Saya : (Mengulurkan selembar uang Rp 1000,00)”Kaleh, Pak..” [Dua motor pak.. -Bahasa Jawa-]
PParkir : “Kurang mas, dua ribu..”
Saya : (melihat papan tarif parkir lagi dan mengeluarkan kekurangannya)

Sedikit pengalaman yang lucu. Mungkin ada yang bertanya kenapa saya tidak menanyakan soal tarif resmi yang terdapat dalam papan tarif? Karena, saya memang sedang tidak ingin menanyakan hal itu. Walaupun sebenarnya agak menyebalkan, tetapi menurut saya masih dalam batas kewajaran (daerah wisata juga).

Ketika melewati barisan PKL makanan, di setiap PKL terdapat daftar harga. Saya baru tahu, bahwa itu wajib dilakukan oleh para pedagang makanan Malioboro, kalau tidak usaha mereka dapat ditutup oleh Pemda/Dinas terkait (Pemkot Yogya/ Dinas Pariwisata, denger info dari temen aja). Bicara tentang harga, mahal oey.. Jika dibandingin di kawasan kampus. Maklum, Malioboro kawasan wisata.

Di minggu malam, kejadian lucu terulang kembali. Lagi-lagi masalah parkir, namun beda tempat (bergeser sedikit sama yang sabtu malam), beda sikon (habis hujan deras) dan beda petugas parkir.

Saya : (mengeluarkan seribu dan menyerahkan ke pparkir).
PParkir : 2 ribu bos..
Saya : (kaget juga) heh, biasane sewu mas. [heh, biasanya seribu mas].
PParkir : iyo mas, ni kan dah ganti shif. tadi mase parkir siang, sekarang dah shif malam.
Saya : (WTF!! – Kukeluarkan kekurangan sembari diam mematung. mulai sikap usil keluar. Motor dikeluarin sama PParkir)
Saya : (melihat jok motor yang basah) Ana kanebo mas?? Tulung dilapke jokku. [Ada kanebo mas?? Tolong dilap joknya]
PParkir : (melongo.. menatap teman didekatnya) Eh, dilapi kuwi. [Eh, Dilap itu.] (menunjuk motor saya)
PParkir2 : (spontan mengelap jok pake tangan).
Saya : (Tersenyum sinis.. FAAAAAAkk!!! – starter motor, cabut)

Tidak habis fikir, menggelitik bukan?? Mungkin saja saya yang memang kurang info dan pengalaman. Maklum selama 2,5 tahun di Yogya, hampir bisa dibilang tidak pernah ke Malioboro. Tapi mendengar alasan “ganti shif” menurutku tidak masuk akal. Yang ganti shif kan anda, PParkirnya?? Bukan motornya…. Motornya tetap masih disitu selama beberapa waktu. Mending 2ribu dapat sedikit fasilitas peneduh dari panas atau hujan atau barangkali kanebo untuk mengelap jok yang basah. Fasilitas sangat amat standar sekali, tidak ada nilai plusnya. Benar – benar tidak sepadan. Apa guna papan tarif parkir di depan Mall (atau mungkin di sepanjang jalan) ?? Kalau harga dinaikin 4x lipat tanpa ada fasilitas apa?? FAAAAAAAAAAKKKKKKKKKK!!!!!!!!! Mana kontrol dari pihak yang berwenang????

Sedikit keluh kesah, nilai minus, kekurangan, hal yang mengganjal, ketidakenakkan, hal negatif dari Malioboro. Semua hal yang memiliki sisi positif pasti terdapat kubu negatif. Sedikit keluhan dariku, mungkin teman – teman yang lain menganggap sesuatu yang wajar. Semoga Malioboro terus berbenah diri agar semakin nyaman dikunjungi wisatawan..

*/Diriku meradang di Minggu malam… FAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKK!!!!!!!!!!!

Tags: , ,

3 Responses to “Malioboro.. Oh, Malioboro..”

  1. the riza de kasela Says:

    Biarin aja mas
    Orang kayak gitu Ntar kalo naik haji kepalanya jadi kepala babi
    ______________________________________________
    Tidak menolak kunjungan Anda ke blog saia yang lain di http://rizaherbal.wordpress.com/

  2. srabisolo Says:

    @ the riza : hehe, ya biar yang di Atas yang menentukan semuanya…🙂

  3. Gerizal Says:

    Membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro.
    Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti “karangan bunga” menjadi dasar penamaan jalan tersebut.
    Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang dan bangunan bersejarah, jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.

    Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, wisatawan bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, wisatawan selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.

    Jangan lupa untuk menyisakan sedikit tenaga. Masih ada pasar tradisional yang harus dikunjungi. Di tempat yang dikenal dengan Pasar Beringharjo, selain wisatawan bisa menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah.

    Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.

    Di penghujung jalan “karangan bunga” ini, wisatawan dapat mampir sebentar di Benteng Vredeburg yang berhadapan dengan Gedung Agung. Benteng ini dulunya merupakan basis perlindungan Belanda dari kemungkinan serangan pasukan Kraton. Seperti lazimnya setiap benteng, tempat yang dibangun tahun 1765 ini berbentuk tembok tinggi persegi melingkari areal di dalamnya dengan menara pemantau di empat penjurunya yang digunakan sebagai tempat patroli. Dari menara paling selatan, YogYES sempat menikmati pemandangan ke Kraton Kesultanan Yogyakarta serta beberapa bangunan historis lainnya.
    Sedangkan Gedung Agung yang terletak di depannya pernah menjadi tempat kediaman Kepala Administrasi Kolonial Belanda sejak tahun 1946 hingga 1949. Selain itu sempat menjadi Istana Negara pada masa kepresidenan Soekarno ketika Ibukota Negara dipindahkan ke Yogyakarta.

    Saat matahari mulai terbenam, ketika lampu-lampu jalan dan pertokoan mulai dinyalakan yang menambah indahnya suasana Malioboro, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati disini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Serta hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap.
    Bagi para wisatawan yang ingin mencicipi masakan di sepanjang jalan Malioboro, mintalah daftar harga dan pastikan pada penjual, untuk menghindari naiknya harga secara tidak wajar.
    Mengunjungi Yogyakarta yang dikenal dengan “Museum Hidup Kebudayaan Jawa”, terasa kurang lengkap tanpa mampir ke jalan yang telah banyak menyimpan berbagai cerita sejarah perjuangan Bangsa Indonesia serta dipenuhi dengan beraneka cinderamata. Surga bagi penikmat sejarah dan pemburu cinderamata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: