Lulus

raungan knalpot sepeda motor itu menggelegar..
klakson sepeda motor juga sama..
teman-temanku konvoi..
memakai seragam kebesaran,
yang telah tercorat-coret tulisan “lulus”, dari pilox..
menyusuri jalan, berkeliling kota
menyuarakan gempita kelulusan ujian nasional..

raungan tangisku tak terdengar..
tenggelam oleh deru knalpot-knalpot itu,
aku,…
aku,…
aku tidak lulus,
vonis yang kuketahui dari selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman..
suara tangis tercampur jadi satu..
tangis syukur, tangis sendu tidak dapat dibedakan..
namun tangisku, tangis pilu..

senyuman sinis timbul dari segelintir orang..
beberapa raut muka bodoh kulihat,
“untung waktu saya sekolah nggak ada UAN, hanya ebtanas”,
“untung standar nilai kelulusan belum setinggi sekarang waktu saya uan dulu..”
itulah pemikiran picik yang saya tangkap dari raut-raut muka itu,
pemikiran ikut bela sungkawa atas keadaan ini..

teringat orang tua yang telah bekerja keras,
berusaha menjadikan anaknya untuk lebih mapan keadaannya.
yang lulus, bingung mau ke mana..
kuliah, mahal segalanya..
kerja, mau jadi apa..
aku yang belum lulus..
teringat wajah emak, bapak,
yang selalu mewantiku agar dapat dijadikan contoh baik bagi adikku.
kebanggaan keluarga..

raungan konvoi motor masih menggema di jalanan kota..
sayup-sayup terdengar sirene polisi..
pasti jadi tontonan menarik bagi warga..
sebuah aksi kejar-kejaran seperti di film,
polisi kejar berandal..
tapi ini berandal berseragam, yang mengacaukan ketertiban kota sesaat..
bukan polisi yang lewat, sirene ambulance ternyata..
konvoi kelulusan tersebut, memakan korban.
seorang siswa terkapar di jalan..
merah darah yang keluar dari kepalanya,
ikut mewarnai seragam yang dikenakannya..
ah sayang, niatnya mau senang-senang,
malah namamu yang akan dikenang.
mati konyol ini namanya..

apa aku menemani dia saja ya??
bercengkerama di sana..
menertawakan pendidikan negeri ini,
menjadi pengamat pendikan dadakan dari lain dunia..
yang tidak pernah didengar,
tidak digubris oleh bapak-bapak terhormat.
kuingat pisau di dapur,
atau tali jemuran di halaman belakang.
sarung bapak, ato selendang emak..
siapa tahu besok jadi berita utama di media-media..
atau jadi tren terbaru setelah pengumuman uan..
dan akhirnya uan dihapus,
karena tren yang kupelopori ini
diikuti teman-teman senasib seperti aku..
aku jadi pahlawan..
haha..

sebuah pikiran picik baru saja terlintas di benakku..
aku menyerah oleh keadaan kalau begini namanya..
berarti aku kalah untuk yang kedua kalinya..
ah, sial..

-untuk teman-teman yang bertemu dengan uan-

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: