Tiga koma atau selainnya?

Akhir Mei kemarin, ketika mengikuti seminar yang diadakan Himakom Ilmu Komputer UGM, ada sebuah hal yang menggelitik. Hal yang mengganjal di benak saya sampai saat ini. Tentang materinya ?? Bukan.. Tentang pembicaranya ?? Bukan.. Tentang panitia acaranya ?? Sama sekali juga bukan.. Tapi tentang sesuatu hal yang dilontarkan dari salah satu pembicara seminar tersebut, yang tidak ada kaitannya dengan materi seminar.

Pembicara tersebut berkata, “Kalau punya putra/putri jangan biarkan IPK mereka 3 koma. harus kurang dari itu.” Dalam hal ini, saya menangkap nilai IPK yang disarankan pembicara tersebut adalah dua koma atau malah kurang dari angka dua. Apakah yang dimaksud beliau?? Dalam penjelasannya, bahwa lulusan dengan IPK tiga koma cenderung menjadi pegawai (melamar kerja), dan lulusan dengan IPK bukan tiga koma akan dapat berkreasi, dalam hal ini maksudnya menciptakan lapangan kerja-enterpreneurship (semoga benar tulisannya).

Apakah benar demikian?? IPK tiga koma hanya berorientasi mencari kerja?? Sementara IPK selain itu menjadi pencipta lapangan kerja?? Dalam hal ini harus lebih diselami lebih dalam. Dalam pandangan saya, sebagian besar mahasiswa memang mencari nilai IPK setinggi-tingginya, syukur dapat predikat cumlaude (lebih dari 3,60). Orang tua mana yang tidak bangga anaknya menjadi lulusan dengan predikat cumlaude. Namun juga mahasiswa yang biasa-biasa saja dalam mengejar nilai kuliah (termasuk saya, haha). Dapat nilai bagus syukur, dapat jelek ya diulang – asal tidak mendapat D tidak akan saya ulang, haha.

ipk tiga koma
Teringat waktu saya masih sma, kakak sepupu bilang kepada saya, “IPK itu hanya masalah syarat untuk menembus dunia kerja, selebihnya kemampuan yang berbicara.” Di situlah pemahaman saya tentang IPK terbangun. IPK terserah mau dapat berapa asal masih dapat digunakan untuk menembus gerbang dunia kerja. Dan pernyataan pembicara tersebut, saya tidak sepenuhnya setuju. Mungkin ada kondisi tersebut, namun ada juga sebaliknya. Tidak selamanya lulusan mahasiswa dengan IPK tiga koma tidak dapat menciptakan lapangan kerja, dan juga sebaliknya lulusan IPK selain tiga koma tidak tertutup kemungkinan menjadi pegawai(pencari kerja).

Semua itu tergantung minat dan kemauan mahasiswa itu sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Bisa jadi seorang mahasiswa yang awalnya masuk kuliah dengan tujuan kalau lulus mau bekerja di suatu perusahaan, dapat berubah pikirannya karena kondisi lingkungan ketika proses pembelajaran di kampus. Lulusan yang memilih menjadi pegawai, dapat diasumsikan bahwa dia memang memilih jalan tersebut untuk menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk digunakan di dunia usaha (sebut saja profesional).

Jadi ada yang salah dengan tiga koma ato sebaliknya?? Tidak ada yang benar dan salah di sini.. Semua itu tergantung minat dan kemauan dari yang bersangkutan. Ada yang memilih menjadi profesional, ada yang memilih menjadi pencipta, dan ada yang menjadi keduanya.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: