Hal-hal Menarik Saat di Bus

Sebuah tulisan tentang beberapa pengalaman menarik saat di dalam bus sepanjang perjalanan Solo – Jogja..

#Sang “Penyusup”

Suatu hari saat perjalanan balik ke ke Jogja, naik SK di malam hari. Saat kondektur bus terlihat bolak balik menghitung penumpang dan mencocokkan dengan bendelan tiket yang di pegang. Dalam benak saya, sepertinya terdapat selisih tiket dengan penumpang yang berada di dalam bus. Setelah berkali-kali kondektur menghitung jumlah penumpang (tentunya dengan menunjuk-nunjuk kecil) dan yakin ada selisih dengan bendel tiket, maka kondektur dengan ramah meminta penumpang mengeluarkan karcis (atau tiket ya?) untuk dicocokkan dengan bendel tiket (FYI, bus jurusan Surabaya – Yogya memakai tiket yang terdapat no seri, jadi bisa dicocokkan). Satu persatu tiket penumpang dicocokkan dengan bendel tiket, termasuk karcis punya saya..🙂 Sampai salah satu penumpang (seorang pria, asumsi saya masih mahasiswa) mengatakan bahwa karcisnya hilang (Dan ternyata, no seri karcis yang di bendel karcis sudah pas dengan no seri karcis yang di bawa para penumpang.) . Sepertinya di sini mulai ada titik terang.😀

Kondektur dengan awak bus lain, membahas penumpang tersebut di belakang (untungnya saya duduk agak di belakang, sehingga masih masuk dalam jarak dengar saya).

kondektur (K), awak bus (A, B), penumpang tertuduh (P) (langsung saya artikan pakai Bahasa Indonesia saja ya, karena aslinya beliau-beliau memakai Bahasa Jawa)

K: Gimana sekarang? Yakin mas nya itu? (Sambil melirik ke penumpang tsb)
A: Ya udah, di tanyai lagi saja. Dia naik dari mana, bayar berapa? (Kondektur menghampiri penumpang tersebut)

K: Mas, tadi yakin sudah membayar?
P: Sudah.. (sambil memainkan hape)
K: Tadi naik dari mana?
P: Solo pak..
K: Tadi bayar berapa?
P: 8 ribu..
K: Pake uang berapaan bayarnya?
P: 10 ribuan..
K: Berarti ada kembalian 2 ribuan.. Bisa lihat uang kembaliannya..
P: (Membuka tas mencari uang kembalian tsb, dan kemudian membuka dompet masih mencarinya..)
K: Ada gak mas? Sudah kepakai buat yang lain?
P: Iya pak, udah kepakai..
K: (berjalan mundur menghampiri A dan B)

A: Gimana katanya?
K: Katanya naik dari solo, udah bayar juga..
B: Aku yakin, dia yang belum bayar..
K: Seingatku, aku g pernah memberi kembalian 2 ribu ke penumpang..
B: Yakin, pasti itu orangnya yang belum bayar.. Ya udah, aku saja yang tangani.. (menuju ke arah penumpang tersebut)

B: Mas, kamu udah bayar belum? (suaranya tegas)
P: … (diam gak menjawab, masih main hape)
B: Kalo belum bayar, bayar sekarang juga gak apa-apa (masih dengan suara tegas)
P: … (masih gak peduli, dan mainan hape)
B: … (diam, sepertinya memberi waktu sebentar)
B: (akhirnya marah juga) Aku yakin, kamu yang belum bayar! Di suruh bayar gak mau! Kamu turun di sini saja. (sambil menarik jaket penumpang tersebut.) Kang (manggil supir), berhenti di sini aja, ini penumpang g mau bayar. biar turun di sini saja.. (masih naik pitam)
P: … (masih tetap diam, berjalan menuju ke depan untuk turun)

(Dan tentu saja hal ini mendapat sambutan berdiri dari penumpang yang lain yang mau melihat mukanya. Penumpang tsb menutup kepalanya dengan kerudung dari jaketnya, mungkin untuk menutupi rasa malunya. Terdengar suara pintu depan ditutup dan bis kembali melaju.)

Saat proses percakapan antara penumpang dan kondektur tadi, ada hal yang menggelitik.. Penumpang tersebut, saat membuka dompet mencari uang kembaliannya, ternyata di dalam dompet, terdapat banyak uang.. Dari warnanya, saya melihat warna merah dan biru.. (asumsi saya merah 100ribu, biru = 50 ribu). Danyang pasti uang di dalam dompet tersebut bukan dalam jumlah sedikit..😀 Seharusnya membayar biaya biaya bus, bukan sesuatu yang berat.. Atau mungkin penumpang tersebut memang memiliki “kelainan” semacam klepto kalo boleh ane sebut? bierlah Tuhan dan penumpang tersebut yang tahu..🙂

Saran saya, bayarlah tarif angkutan sebagaimana mestinya.. Daripada dapat malu di tengah jalan..🙂

🙂 &🙂

#Saya Gak Megangin..
Suatu siang saat balik ke Kartasura naik bus solo jogja (lupa namanya). Posisi duduk saat itu di belakang pak supir, dan di sebelah kanan saya ada penumpang lain (laki-laki), saya perkirakan sih umurnya masih tetap lebih muda saya.. :p

Saat di daerah klaten, seorang pedagang asongan masuk ke bus dan menawarkan barang dagangannya. Pedagang tersebut menawarkan permen jahe, kacang dan sejenisnya. Dengan metode setiap penumpang di kasih satu-satu dari dagangannya untuk menarik minat beli. Tidak terkecuali saya mendapat permen jahe, saya hanya memegangi permen tersebut sampai pedagang tersebut mengambil kembali dagangan mereka. Tidak terkecuali penumpang di samping kanan saya. Dia sepertinya juga diberi permen jahe oleh pedagang tersebut.

Yang bikin saya kaget, penumpang tersebut tidak memegang erat barang tersebut. Ternyata, dia memindahkan permen tsb dari pangkuannya ke jendela bus (ada tempat siku kecil di jendela). Awalnya sih permen tersebut berada di tempatnya, tapi ketika bus menikung permen tersebut jatuh, dan penumpang juga mengabaikannya. Sampai pedagang tersebut kembali menrik dagangannya, terjadi percakapan yang menggelitik.

Pedagang Asongan : A, saya : S, penumpang: X

A: (memegang pundak X untuk menagmbil dagangannya)..
X: Apa pak?
A: Permennya tadi mas..
X: Aku gak megangin…(ketus sambil menunjukkan ke dua tangannya)
A: (melongok ke bawah kursi dan memegang pundak saya..) Mas, tolong ambilkan permen itu mas..
S: Oh, iya pak (membungkuk sedikit, mengambil permen dan langsung dikasihkan bapaknya)
A: Makasih y mas.. Semoga bla.. bla.. bla.. (mengucapkan doa dan saya mengamininya, sambil bilang sama-sama y pak).
A: .. (langsung berjalan ke belakang dan mengambil dagangan dari penumpang lain..

Dari kejadian itu, pendapat saya ada juga ya manusia super egois dan ketus. Dengan pede-nya dia bilang tidak megangin, lah padahal saat dia meindah permen tersebut dari pangkuan ke kaca bus, apa itu tidak dinamakan memegang?? Apa susahnya sih “menjaga” barang dagangan tersebut sebentar saja?? Saya perhatikan Anda tidak tidur juga..

Bagaimana kalo posisi anda yang menjadi bapak pedagang asongan tersebut dan mendapat perlakuan begitu ?(pertanyaan khusus untuk penumpang di samping kanan saya.)

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: