Kucingnya mati

Halo pembaca.๐Ÿ™‚
Sedikit tulisan dan opini dari saya, di tengah jeda pertandingan bola.

Apakah pernah anda merasakan gelisah di sebuah lingkungan baru? Pernah? Tidak pernah? Tidak tahu? Saya sendiri pernah. Menurut hemat saya, setiap orang pasti akan mengalami keadaan dimana mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, keluar dari zona nyaman yang selama ini mereka rasakan dan harus merasakan lingkungan baru.

Paling gampang diingat, saat masuk sekolah. TK, SD, SMP, SMA, bahkan kuliah, pasti kita dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, ada kawan baru, guru baru, kegiatan baru bahkan pacar baru. :v Pasti inget dong masa masa mos ato ospek (yang mengalami saat-saat kita “dikerjain” untuk membuat tugas aneh-aneh) anggep aja itu tugas sebagai ajang untuk bersosialisasi dengan teman baru dan sedikit melatih tanggung jawab kita. Ingatkan bagaimana tugas mos kita kerjain walopun kadang kita juga menggunakan cara licik untuk mengakali tugas-tugas nyeleneh tsb. Intinya dari mos/ospek, kita bisa berbaur dan bersosialisasi untuk mengenal calon pacar kita, eh maksudnya mengenal lingkungan kita.

Begitupun di dunia kerja. Bukan ospek sih, lebih sering disebut OJT. Saat OJT pun kita belajar ttg seluk beluk dunia kerja. Bagaimana suasana dapur bisnis sebuah kantor itu? Bagaimana cara magabut yang baik? :v.
Apakah rasanya sama dengan saat mos/ospek? Kalo ane anggepnya beda-beda dikitlah ama MOS/OSPEK. Kadang ada senioritas, ada senior yg tebar pesona juga(ane bukan yg begitu). Intinya OJT merupakan ajang untuk belajar ttg lingkungan baru(kantor). Disaat itulah kita belajar mengenal rekan-rekan yang baru, belajar menempatkan diri menjadi anggota keluarga baru. Percayalah masuk ke sebuah lingkungan kantor itu susah-susah gampang. Mereka (karyawan yang sudah lebih senior) bakal lebih tertarik dengan kerjaan masing-masing, daripada membimbing ato memberitahu kepada peserta OJT ttg apa yang mereka kerjakan di kantor. (Coba baca pandangan saya di “apakah kita = bot ?”).

Pengalaman ane, butuh waktu yang lumayan untuk membiasakan irama kerja menjadi bagian rutinitas kita. Sekitar setelah 2 bulan, ane baru enjoy dengan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab ane. Mungkin beda-beda apa yang dirasakan antara orang yang satu dengan yang lain. Dalam masa membiasakan diri tsb, yang ane ingat saat sarapan pagi rasanya mual selalu pengen keluar lagi itu sarapan. Mungkin itu adalah saat adaptasi ane dengan pekerjaan dan lingkungan baru. Setelah masa adaptasi selesai, sarapan menjadi enak dan dalam pikiran ane “besok menu sarapannya mau apa ya?”. :))

Sebuah cerita dari teman ane, ada karyawan baru di kantornya sedang tahapan OJT. Karyawan baru sepertinya sedang tahap adaptasi dari zona nyaman ke zona belum nyaman, dari zona kampus ke dunia kerja.
Beberapa pertanyaan selalu dilontarkan, bagaimana besok kota penempatannya? Apakah jauh ato dekat? Sesuai harapan ato tidak? Semua dijawab oleh teman ane sesuai keadaan yang sudah sudah terjadi di kantornya.
Hingga suatu hari, tema pertanyaan yang sama kembali ditanyakan. Jawaban yang sama masih dikeluarkan teman ane.

Hingga teman ane menyadari gerakan dan mimik muka peserta OJT tsb sepertinya menjadi mimik muka sedih, dengan melepas kacamata dan berusaha menghapus tetesan air matanya.

“Kenapa dek? Kog jadi nangis? Ini diseka dulu airmatanya.”
“Bingung dengan besok penempatannya mas.”
“Seperti yang aku jawab sebelumnya, masih sama jawabannya.”
“Bingung mas kalo besok gak punya teman…”
“Rekan kerjamu bakal menjadi temanmu.. Suka tidak suka harus mencoba membaur dan bersosialisasi.”
Dst..

Percakapan teman saya tsb masih berlanjut seputar adaptasi dan keluar dari zona nyaman. Sampai sebuah opini keluar untuk tidak lanjut OJT. Tapi ditolak mentah mentah oleh peserta OJT.
Hingga solusi yg ditawarkan untuk mencoba ngobrol cerita tentang kegelisahannya dengan orangtuanya dimunculkan dalam percakapan teman saya tsb.

“Intinya dek, lingkungan baru berarti harus beradaptasi untuk bisa mengenal lingkungan dan orang di lingkungan tsb.”
“Iyo mas..”
“Dah diseka dulu lagi air matanya. Bisa geger ntar satu lantai kalo kamu ketahuan nangis di meja kerjaku.”
“Iyo.. Kalo ketahuan aku nangis gimana mas?”
“Gampang.. Paling cuma tak jawab kalo kucingmu di rumah baru aja mati.”
Tertawalah ke dua orang tsb.

Itulah sedikit opini dan cerita dari teman saya. Intinya, lingkungan baru kadang menimbulkan momok yang menakutkan, tetapi dengan belajar beradaptasi mengenal lingkungan dan bersosialisasi dengan orang-orang di lingkungan tersebut tidak ada alasan untuk takut terhadapa suasana baru.

Dan esok harinya, karyawan OJT tsb sudah lebih enak dan enjoy untuk beradapatasi dengan lingkungan barunya. Bagaimana caranya, anggap saja dia sudah berdamai dengan ketakutannya sendiri. Mengubah menjadi keberanian untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Good luck, boy!

Di lingkungan baru akan ada suasana baru, di suasana baru akan ada petualangan baru. Petualangan baru terlalu sayang untuk dilewatkan. Ingatlah sebuah kalimat bijak, hidup tidak diukur oleh jumlah nafas yang kita hembuskan, namun oleh saat-saat yang kita habiskan.

Selamat pagi dan selamat berkaktifitas.๐Ÿ™‚

Tags: , , ,

2 Responses to “Kucingnya mati”

  1. Shyfani ayu Says:

    Inspirated story 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: